TANAMAN MAMPU MENDETEKSI POLUTAN DAN BAHAN PELEDAK

DENVER, (PRLM).- Para ahli biologi dari Universitas Negara Bagian Colorado mampu menunjukkan bahwa tanaman dapat berfungsi sebagai detektor yang sangat spesifik untuk polutan dan bahan peledak. Hasil penelitian ini muncul di jurnal ilmiah PLoS ONE. edisi terbaru.
Profesor Juni Medford bersama timnya di Departemen Biologi mampu mengaktifkan suatu sifat mendeteksi di dalam tanaman dengan cara pengkabelan ulang proses pensinyalan alaminya, sehingga tanaman akan berubah dari hijau ke putih ketika tanaman itu mendeteksi bahan kimia di udara atau tanah. Upaya ini pada akhirnya dapat digunakan untuk berbagai macam aplikasi, seperti keamanan di bandara atau pusat perbelanjaan, atau pemantauan polutan di rumah-rumah.
"Gagasan membuat tanaman detektor datang langsung dari alam," kata Medford seperti dilansir Physorg, Kamis (27/1). "Tanaman tidak bisa lari atau bersembunyi dari ancaman, jadi mereka telah mengembangkan sistem yang canggih untuk mendeteksi dan menanggapi lingkungannya. Kami telah 'diajari' tanaman cara mendeteksi hal yang buruk di sekitar kita dan bagaimana meresponsnya," jelas Medford.
"Tanaman ini direkayasa untuk mendeteksi bahan peledak, pada akhirnya dapat membantu kita melindungi pasukan dari alat peledak improvisasi (IED)," kata Linda Chrisey dari Kantor Riset Angkatan Laut Amerika Serikat.
Berdasarkan penelitian sejauh ini, kemampuan deteksi tanaman ini sama dengan atau bahkan lebih baik daripada a***g, kata Medford. Sifat mendeteksi dapat digunakan dalam setiap tanaman dan bisa mendeteksi berbagai polutan sekaligus, perubahan ini juga dapat dideteksi oleh satelit.
Dukungan dana untuk penelitian ini disediakan oleh Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA), Kantor Riset Angkatan Laut, serta sejumlah lembaga lainnya. 
Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com

CACINGAN BIKIN KECERDASAN MENURUN

Cacingan merupakan penyakit kronik dengan prevalensi tinggi. Penelitian terhadap murid TK dan SD di Muara Baru Jakarta tahun 2009 menemukan 60 persen murid menderita infeksi kecacingan. Penyakit ini memang tidak mematikan, namun menggerogoti kesehatan dan menurunkan mutu sumber daya manusia.
"Cacingan menyebabkan anak kurang gizi karena sari-sari makanan habis dihisap. Anak juga akan anemia, lesu dan kecerdasannya menurun," kata Prof.dr.Saleha Sungkar dari departemen parasitologi FKUI Jakarta di acara program edukasi bahaya cacingan di sekolah yang diadakan Combantrin di SD Al-Ikhlas Jakarta (31/1/2011).
Telur cacing, jelas Suleha, hanya bisa menginfeksi jika telur-telur itu sudah kontak tanah. "Karena itu kebanyakan yang cacingan adalah anak-anak karena mereka masih suka bermain di area terbuka atau malas mencuci tangan sebelum makan," paparnya.
Telur cacing juga bisa masuk ke dalam tubuh melalui makanan yang tercemar telur cacing. Pengobatan cacingan dilakukan berdasarkan diagnosis. "Periksa dulu feses di laboratorium, kalau positif cacingan baru diobati," katanya.
Orangtua juga disarankan memeriksakan feses anaknya jika anak terlihat lesu dan mudah mengantuk. "Pada gejala awal biasanya cacingan tidak bergejala sehingga anak bisa terlihat sehat," paparnya.
Upaya pemberantasan cacingan dilakukan dengan menyosialisasikan perilaku hidup bersih dan sehat. "Membiasakan anak mencuci tangan juga para pedagang makanan. Penyuluhan juga diberikan kepada masyarakat lewat Posyandu. Sejauh ini, upaya tersebut menunjukkan penurunan infeksi kecacingan," kata dr.IBN Banjar, Kabid Pengendalian Masalah Kesehatan Dinas Kesehatan DKI dalam kesempatan yang sama.
Sumber : http://health.kompas.com

MAYORITAS GURU SMA TAK DUKUNG TEORI EVOLUSI


Kebanyakan guru biologi SMA di Amerika Serikat ternyata tidak mendukung teori evolusi besutan Charles Darwin. Seperti dikutip dari Washington Post, riset yang dilakukan terhadap sekolah negeri di Amerika Serikat mengungkapkan bahwa mayoritas guru biologi tidak mengajarkan teori evolusi sesuai yang direkomendasikan oleh National Research Council.
Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Profesor Michael Berkman dan Eric Plutzer, hanya 28 persen dari guru-guru Biologi SMA di AS yang secara konsisten mengajarkan Biologi sebagai suatu hal menyatu dengan topik lain pada ilmu biologi.
Sementara itu, 13 persen guru Biologi jelas-jelas membela creationism (teori yang berseberangan dengan teori evolusi): bahwa alam semesta, bumi, kehidupan, manusia diciptakan oleh kekuatan supernatural (Tuhan).
Selebihnya, 60 persen guru lainnya meragukan otoritas para peneliti pendukung teori Darwin, dan bahkan melegitimasi argumen dari kelompok kreasionis. Guru-guru ini biasanya menghindari kontroversi antara teori evolusi dengan creationism.
Di antara mereka ada yang hanya mengajarkan biologi molekuler, atau mengatakan kepada siswanya bahwa mereka boleh tidak mempercayai teori evolusi, namun mereka perlu mengetahuinya hanya untuk keperluan ujian.
Riset ini sendiri meneliti sekitar 926 sampel guru biologi di berbagai SMA negeri di Amerika Serikat. Padahal, asosiasi guru sains AS sendiri secara jelas menjelaskan posisi mereka yang mendukung teori evolusi.
"Asosiasi Guru Sains Nasional AS (NSTA) sangat mendukung posisi teori evolusi sebagai konsep yang menyatu dalam sains dan harus disertakan dalam kurikulum pendidikan di SMA.
Sumber :http://teknologi.vivanews.com

IMUNISASI BIOLOGI MAKSIMALKAN PENGOBATAN KANKER

Oleh: Dahlia Krisnamurti

INILAH.COM, Jakarta - Kanker sebagai penyakit kronis terkadang membuat penderitanya pesimistis sembuh. Namun dengan terapi imunisasi biologi, penderita dapat memaksimalkan pengobatan kanker.


Terapi imunisasi biologi merupakan terapi yang menggunakan sel imun dari tubuh pasien, kemudian melalui kloning dan pengembangbiakan di laboratorium dimasukan kembali ke dalam tubuh pasien.

Tujuan dari dilakukannya terapi ini adalah untuk merangsang sel kekabalan tubuh dalam 'melawan', menekan, serta membunuh sel kanker. Kekebalan tubuh yang meningkat akan memberikan daya lebih untuk bereaksi melawan sel kanker serta memulihkan keseimbangan kerja tubuh.

Selain itu, terapi ini sangat berguna menghindari penyebaran kanker dan memperkecil kemungkinan kambuh. Jadi, dalam melakukan perlawanan terhadap sel kanker tidak menggunakan obat kimia dan tidak menimbulkan efek samping.

Direktur ahli terapi kombinasi pengobatan Timur-Barat dari RS Modern Guangzhou, China, Prof Che Xigeng mengatakan, selama ini kegagalan pengobatan kanker terletak pada pengobatannya yang kurang tepat.

“Artinya, dengan pengobatan yang salah, maka kondisi penyakit bertambah parah, pasien kehilangan kesempatan untuk sembuh, dan meningkatkan kesulitan untuk pengobatan selanjutnya,” katanya.

Terapi imun itu dapat digabungkan dengan operasi, kemoterapi maupun radioterapi untuk memaksimalkan hasil pengobatan. Selain itu dapat pula membantu mencegah kanker kambuh kembali dan meyebar.

Pengobatan kombinasi

Prof dr Peng Xiao Chi menjelaskan, saat ini pihaknya menyediakan cara kombinasi dalam pengobatan kanker. Karena saat ini hasil pengobatan operasi, kemoterapi dan radioterapi untuk penderita kanker masih terbatas. Maka akan lebih baik bila dikombinasikan dengan terapi imunisasi biologi.

"Kami menyebutnya, sebagai pengobatan kombinasi," jelasnya.

“Hasilnya terbukti bagus karena menjangkau berbagai sisi pengobatan secara menyeluruh. Dan, kami selalu melakukan pengobatan yang disesuaikan kondisi setiap pasien,” tambahnya.

Seperti diketahui, operasi, kemoterapi dan radioterapi dinilai belum cukup untuk membersihkan sel kanker secara tuntas, terutama kanker yang sudah menyebar dan kambuh kembali. Apalagi jika ditinjau dari efek samping kemoterapi yang cukup besar dan dapat merusak sistem kekebalan tubuh pasien.

Selain itu, untuk mengobati kanker, terapi imunisasi biologi juga berfungsi meringankan efek samping, terutama setelah penderita melakukan radioterapi seperti gangguan pencernaan, bercak di kulit, dan menghentikan kerontokan rambut, dan mengembalikan kondisi fisik pasien. Dengan demikian, kualitas hidup pasien akan meningkat.

Umumnya setelah pengobatan dilakukan, kanker akan mengecil secara signifikan. Bagi pasien yang hasil radioterapinya kurang efektif atau pasien yang tidak dapat menerima kemoterapi dapat menggunakan terapi jenis ini.

Terapi imunisasi biologi ini bukan untuk menggantikan pengobatan konvensional, seperti operasi, kemoterapi melainkan dapat digabungkan dengan tujuan agar setelah operasi, kanker dapat dicegah untuk kambuh kembali. Selain itu dapat memperkuat kekebalan tubuh dan meningkatkan kualitas hidup pasien.

Sumber : http://gayahidup.inilah.com

PENYAKIT DAN GANGGUAN SISTEM PERNAPASAN


Berikut ini adalah beberapa contoh gangguan pada sistem pernapasan manusia

1.Emfisema : merupakan penyakit pada paru-paru. Paru-paru mengalami pembengkakan karena pembuluh darahnya kemasukan udara.

2.Asma : merupakan kelainan penyumbatan saluran per-napasan yang disebabkan oleh alergi, seperti debu, bulu, ataupun rambut. Kelainan ini dapat diturunkan. Kelainan ini juga dapat kambuh jika suhu lingkungan cukup rendah atau keadaan dingin.

3.Kanker paru-paru : Penyakit ini merupakan salah satu yang paling berbahaya. Sel sel kanker pada paru-paru terus tumbuh tidak terkendali. Penyakit ini lama-kelamaan dapat menyerang seluruh tubuh. Salah satu pemicu kanker paru-paru adalah kebiasaan merokok. Merokok dapat memicu terjadinya kanker paru-paru dan kerusakan paru-paru.

4.Tuberkulosis (TBC) : merupakan penyakit paru-paru yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Bakteri tersebut menimbulkan bintil-bintil pada dinding alveolus. Jika penyakit ini menyerang dan dibiarkan semakin luas, dapat menyebabkan sel-sel paru-paru mati. Akibatnya paru-paru akan kuncup atau mengecil. Hal tersebut menyebabkan para penderita TBC napasnya sering terengah-engah.

5.Bronkhitis : merupakan gangguan pada cabang batang tenggorokan akibat infeksi. Gejalanya adalah penderita mengalami demam dan menghasilkan lendir yang menyumbat batang tenggorokan. Akibatnya penderita mengalami sesak napas.

6.Influenza ( flu) : merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus influenza. Penyakit ini timbul dengan gejala bersin-bersin, demam, dan pilek.

KIRIM-KIRIM LEWAT FACEBOOK